Rabu, 25 Februari 2015

Optimis Selamat Dari Sandera Buaya

Optimis Selamat Dari Sandera Buaya

Sahabat LDII  Kediri - Orang optimis ketika melihat orang yang sukses berkata," dia manusia, makannya sama-sama nasi kok bisa, akupun bisa melakukannya". Ketika ia memutuskan bisa pada saat itulah terbuka ide-ide untuk mewujudkan kebisaannya. Mari kita tengok kisah orang selamat dari santapan lubang buaya. Kisah ini adalah kejadian pada seorang penduduk ditepian kali Bekasi. Pada jaman dulu kali bekasi adalah kali alam yang bersih, tak ada buangan limbah masuk disana, hingga masyarakat dapat menggunakannya untuk keperluan sehari-hari dengan aman. Masyarakat biasanya menggunakan untuk mencuci pakaian, mencuci perabotan, mandi dan digunakan untuk konsumsi (minum dan masak). Ikan-ikanpun pada saat itu banyak jenisnya yang berkembang biak secara melimpah dan alami serta menjadi tempat bagi para warga untuk memenuhi kebutuhan protein, tidak seperti saat ini ikan yang ada di sana hanyalah satu jenis ikan yaitu ikan sapu-sapu saja dengan kondisi air yang hitam akibat polusi industri. 

Suatu hari seorang pemuda ia asik mandi di kali tersebut, ketika sedang asik-asik mandi, tiba-tiba kakinya digigit buaya yang langsung menyeretnya kedalam air, si pemuda berusaha melepaskan gigitan buaya, namun ia kalah tenaga dan ahirnya ia pasrah pada buaya, sambil ia terus berdoa pada Alloh agar ia diselamatkan dari si pemangsa buaya. Ternyata buaya itu menyeretnya masuk ke lubang, si pemuda diletakan di sana, beruntung sang buaya tidak langsung menyantapnya, hingga si pemuda ada kesempatan untuk berpikir, mengamati keadaan disekeliling lubang tersebut. Ternyata di sana banyak berserakan tengkorak manusia, serta beberapa asesorisnya yang tidak dimakan buaya, ada jam tangan, uang logam dll. Sang pemuda berdoa dan terus berpikir, kemudian ia mencoba untuk menusuk-nusuk dinding atas lubang buaya tersebut barangkali ada bagian yang menembus kebagian luar. Saat ia hampir putus asa ternyata ada bagian dinding yang lunak, setelah ditekan ternyata menembus bagian luar yang berumput, ia membesarkan lubang itu dan keluar dari lubang buaya, yang ternyata lubang tak jauh dari tepian kali. selamatlah pemuda itu.

Orang optimis selalu berusaha meskipun ia dalam kondisi yang secara kasat mata tidak mungkin lagi, batasannya selama nyawa masih dikandung badan. Si pemuda ini telah memutuskan untuk keluar dari lubang buaya ini, maka Alloh memberikan ide dan caranya untuk keluar dari lubang buaya tersebut. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari diantara kita ada kondisi seperti masuk dalam lubang buaya itu. Hidup adalah secercah harapan yang sangat besar kemungkinannya, putuskanlah untuk mengatakan ya BISA, lalu berdoa dan berusaha semoga Alloh menyertai kita yang selalu berprasangka baik pada Alloh.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)

Selasa, 24 Februari 2015

SMS Nyasar

SMS Nyasar

Teman saya berceritera tentang perceraian dengan mantan istrinya. Ia telah menikah selama 10 tahun dikaruniai 4 anak. Ia pun tinggal di rumah pribadinya walaupun kondisi sederhana, namun ini lebih bangga dan menguntungkan secara ekonomi karena tak perlu mengeluarkan sewa bulanan atau tahunan. Sebenarnya terhitung sukseslah untuk ukuran seorang yang maisahnya hanyalah usaha tambal ban di tepian jalan. Anak-anak pun yang usia sekolah semua bersekolah meskipun wajib belajar 9 tahun, sebagian biaya pendidikan disubsidi pemerintah, tetap oprasional harian dari mulai transport, jajan ditambah tugas-tugas sekolah yang juga sering harus mengeluarkan biaya diakumulasi cukup lumayan besar. Anugrah yang selyaknya harus diyukuri.

Kronologi perceraian diawali sms nyasar masuk ke hp istrinya, dari keisengan seseorang yang pandai merayu, yang membuahkan hasil si istri teman saya itu minta cerai, karena tergoda oleh bujuk rayu si pemilik sms nyasar. Awalnya teman saya berusaha menasehatinya, kemudian keluarga juga jadi ikut menasehati ditambah lagi pengurus. Semua tak membuahkan hasil, achirnya teman saya menjatuhkan talaknya dan kini sudah lewat masa idahnya, rumah mereka dijualnya anak-anak diboyong sang suami semuanya. Hingga saat ini si laki-laki sms nyasar itu belum juga datang untuk mengawininya tragiiis.

Ingat nasehat ulama kita dilarang suart-suratan, dilarang smsan dan sejenisnya pada wanita yang bukan mahromnya. Ini salah satu akibat meremehkan nasehat. Berhati-hatilah.

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

"Janganlah seorang pria berkhalwat (berduaan dengan wanita), kecuali wanita itu disertai mahram-nya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan" (HR Muslim)

SMSan laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya memenuhi kondisi dua hadis di atas.

Kita Lebih Termotivasi Dari Dalam dan Kekurangan

Kita Lebih Termotivasi Dari Dalam dan Kekurangan

Teori evaluasi kognitif berpendapat bahwa motivasi internal lebih " KUAT memotivasi manusia untuk melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas. Lalu apa saja yang termasuk motivasi internal tak lain adalah kerja atas pilihan dan niat hati sendiri bukan paksaan manusia (karena Alloh), target atas pilihan sendiri, pekerjaan dalam kendali sendiri dan bekerja atau melakukan kegiatan berdasarkan nilai-nilai diri sendiri. Ada hal yang menarik bahwa penghargaan verbal berupa ucapan yang baik yang merupakan penghargaan dan terimakasih akan menjadi bagian motivasi internal individu. Inilah power of Good Speech (kekuatan ucapan yang baik) yang tercantum dalam 5 syarat kerukunan.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Ternyata pada dasarnya manusia sangatlah bermartabat, faktor materil seperti uang dan fasilitas hidup lain (faktor motivasi ekternal) jika terus menerus keberadaanya, bukan memotivasi melainkan membuat nyaman seseorang.Jika pemberianya kurang tepat dapat menghinakan diri (merasa diperbudak dan terjajah). Dengan demikian pernyataan, " saya akan rajin jika: sudah segalanya tersedia" cenderung tidak terbukti memotivasi seseorang untuk lebih produktif dan lebih bahagia. Ini juga sebagai jawaban kadang kekurangan/keterbatasan dan tumpukan masalah sering berbalik makna menjadi tantangan yang memotivasi orang berjuang lebih keras dan menikmati prosesnya.
“ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Jumat, 06 Februari 2015

Asal muasal perubahan yaitu rubah berpikir

Asal muasal perubahan yaitu rubah berpikir

Suatu sore kami seluruh pengurus agnia dan duafa berkumpul untuk bermusyawaroh dalam rangka mempersiapkan mengisi pengajian kewiraswastaan. Pimpinan musyawaroh meminta masukan untuk materi yang kiranya cocok dalam acara tersebut. Ada tiga masukan yang pertama dengan nada pesimis bahwa mereka yang duafa itu memang demikian adanya diberi modal habis dengan modal-modalnya, diberi kesempatan untuk bekerja belum apa-apa Tanya dulu uangnya, ditunjukan pekerjaan yang diperkirakan cocok dengan latar belakangnya ternyata gengsi dsb. 


Masukan kedua, orang duafa itu yang penting kepahaman agamanya tetap terjaga, supaya menerima keadaan, agar selalu banyak berdoa, jika mau bantu bantulah jangan minta dikembalikan/sifatnya bantuan murni. Yang ke tiga adalah masukan agar melakukan motivasi dengan dasar satu teori usaha bahwa untuk mengubah manusia yang pertama adalah merubah pola pikirnya sebagai dasar sikap dan perilaku. Ahirnya disepakatilah bahwa materi pada pengajian untuk kali ini adalah motivasi selain teori menampilkan testimony orang yang berangkat dari nol sampai sukses, membuka wawasan dan pandangan atau pola pikir bahwa sukses hak setiap orang atau mungkin dapat saja terjadi pada setiap orang. 

Kita memang tak boleh serah bongkoan (pasrah) pada suatu kondisi , tidak terpropokasi dengan ucapan “ Balung kere, gawan bayi, turunan miskin, urat miskin, darah jelata dsb ”, yang semua itu mengarah pada patalis atau qodariah tanpa usaha. Setiap kejadian ada penyebab, demikian hukum causa, demikian juga soal kaya dan kemiskinan jika kita sengaja memikirkan penyebabnya mungkin akan banyak berbagai kemungkinan yang dapat diidentifikasi. Yang cukup menarik adalah pendapat umum para motivator bahwa kaya dan miskin adalah dimualai dari pikiran . 

Faktanya banyak orang kaya yang asalnya adalah orang miskin, yang berusaha untuk menjadi orang kaya diawali dari berpikir yang tepat, buku yang terkenal Berpikir dan Berjiwa Besar karangan D Swart, Poor Dad and Rich Dad karya Robert Kyosaki, dua buku tersebut mengalamatkan bahwa pola didik yang didalamnya tidak lain adalah cara berpikir menentukan sikap dan perilaku tertentu, perilaku tertentu menghasilkan nasib tertentu. Sekolah, pelatihan atau sarana magang didirikan atas dasar yang sama bahwa manusia dapat berubah dengan cara merubah pikirannya. Inilah peluang perubahan melalui usaha, dan kita wajib berusah, berusaha adalah ibadah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri (Surat Arraad Ayat 79). Perluasan dari ayat ini yang dimaksud diri tentu didalamnya adalah pola pikir. Moga Alloh paring barokah.

Kamis, 05 Februari 2015

Karena Allah Saja

Karena Allah Saja

Diskusi suami istri tetanng perilaku anak tiri, Si Bapak punya anak dari istri terdahulu, suatu ketika terjadi permasalahan yang mengakibatkan si Ibu sebagai Ibu tiri merasa sangat tersinggung oleh ucapan si anak tirinya. Waktu berlalu demikian lama sianakpun sudah menyadari kesalahannya namun ia belum meminta maaf secara langsung karena rasa malu, hal ini jadi poin dan catatan buruk. Suatu hari Bapak menceritrakan suatu peristiwa di mana anak tersebut sungguh ia telah menunjukan ucapan dan perilaku yang baik, si Bapak dengan senangnya berceritra bahwa anaknya sudah semakin baik dan dewasa, setidaknya dinilai dari kata-katanya. Si Ibu tidak menanggapi positif perubahan itu, malah ia sampaikan itu adalah bentuk perilaku politis. Bapak sendiri sangatlah yakin bahwa itu memang perilaku yang sebenarnya.

Demikian andai perilaku individu hanya berdasarkan respon positif dari manusia maka yang terjadi seandainya diterima perilakunya maka individu akan meneruskan perilakunya atau mempertahankannya, jika dapat respons negative kemungkinan ia akan berhenti melakukan walaupun perilaku positif atau pada kasus yang lebih parah individu merasa putus asa kemudian ia akan melakukan perilaku negative karena stigma yang sudah melekat ia merasa percuma berperilaku positif. Seperti kasus di atas seanadainya anak tirinya tahu bahwa ia tidak direspons positif malah sebaliknya dianggap politis, pura-pura atau modus, kemungkinan ia akan kembali berprilaku negative setidak khususnya terhadap ibu tirinya. Perilaku yang mengacu pada respons lingkungan adalah reaktif (orang diombang ambing oleh keadaan). Maka diperlukan dasar motivasi perilaku yang kuat agar tidak goyah oleh godaan kurang tepatnya respons manusia terhadap dirinya. Perilaku yang inisiatif penuh dari diri adalah perilaku proaktif.

Di negara maju seperti Jepang kepedulian, senyum, kerajinan, etos kerja yang produktif mereka melakukannya sebagai bagian dari perilakunya. Jika kita sengaja menanyakannya maka mereka akan memberikan jawaban bahwa demikian itu adalah sudah “seharusnya”, dengan kata lain itu adalah perilaku yang berdasar norma, bukan agar mendapat repons yang diharapkan dari orang lain. Lalu tentang tampilan seni, pemilihan model dan selera mereka memutuskannya berdasarkan pilihan alih-alih perintah atau pengaruh otritas orang lain. Senada dengan ini H Romli Affandi pensehat senior berkata,”berbuat baik pada orang lain itu bukan agar orang lain berbuat baik pada kita melainkan karena Alloh sudah mewajibkan demikian ”, dengan kata lain Anda tersenyum pada orang lain mau dibalas senyum atau tidak tetaplah dilakukan dan diulang untuk terus dilakukan. Ternyata prinsip ini sejalan dengan prinsif psikologi humanism, bahwa dasar perilaku manusia adalah Karena norma atau karena pilihan dan keputusannya sendiri.

Perilaku orang iman harus dialamatkan karena Alloh agar berpahala, ini dapat berimplikasi pada diri memiliki kehandalan dalam mempertahankan perilaku khususnya perilaku yang sesuai dengan aturan agama. Hanya Alloh yang sanggup menerima dan menilai perilaku kita tanpa subyektifitas, sekalipun pada orang yang mendurhakainya, ketika ia berperilaku baik tetaplah dinilai baik. Maka jangan lupa niatkan karena Alloh dan niatkan semata untuk ibadah. Dalam menilai orang tidak perlu suuzon apakah ia pura-pura atau tidak. “Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu, dan barangsiapa yang beramal shalih maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS Ar-Rum [30]: 44).

Sabtu, 24 Januari 2015

LDII Mengusulkan BPJS Syariah

LDII Mengusulkan BPJS Syariah

Indonesia sebagai negara kesejahteraan (welfarestate) memiliki tujuan mulia untuk menyejahterakan masyarakatnya berdasarkan Pembukan UUD 1945. Program Jaminan sosial melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) merupakan upaya pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat.

Dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia dengan perbandingan umat muslim 85 persen dari total penduduk 260 juta jiwa, masyarakat Muslim di Indonesia menuntut pemerintah kian memperhatikan kehalalan dalam bermuamalah, demikian juga terhadap pelaksanaan program BPJS.

BPJS yang digelar pemerintah memiliki lima jenis program jaminan, yakni Jaminan Kesehatan, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun dan Jaminan Kematian. Pemerintah pada akhir tahun 2019 menargetkan seluruh masyarakat Indonesia yang ditentukan undang-undang telah menjadi peserta Program Jaminan dan mendapat Jaminan Perlindungan Kesehatan.


Sifat kepesertaannya wajib bagi setiap warga masyarakat dan mereka berhak mendapatkan jaminan perlindungan kesehatan dengan membayar iuran sesuai aturan yang berlaku. Bagi mereka yang tidak mampu untuk membayar iuran, maka negara wajib memberikan bantuan iuran. Persoalannya, LDII melihat terdapat problem yang timbul jika dilihat dari sisi keislaman pada akad atau tata hubungan antar ketiga pihak, dan lembaga-lembaga penunjang yaitu peserta penerima manfaat, pihak pemberi jasa kesehatan, dan pihak pengeloa dana atau penjamin (BPJS).

Terdapat klaim dari pemerhati dan masyarakat pengguna jaminan sosial ini, bahwa aspek “hubungan keuangan” atau “transaksi keuangan” dalam sistim BPJS belum jelas benar aspek hukumnya, apakah sudah atau tidak memenuhi kriteria syariah Islam, yang berakibat timbulnya transaksi-transaksi non halal. Hal kedua adalah, pada cara-cara pengelolaan dana amanah yang ditempatkan pada lembaga-lembaga keuangan non syariah yang menimbulkan transaksi-transaksi ribawi.

Untuk menjamin kehalalan dari produk BPJS, DPP LDII mengusulkan pengelolaan dana BPJS dengan cara syariah atau BPS Syariah. Untuk kepentingan tersebut, DPP LDII mengajak ICMI dan MUI menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang bertemakan “Menggagas BPJS Syariah” pada 19 November 2014. Dengan FGD ini, DPP LDII ingin mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya umat Islam dan pemerintah mewujudkan jaminan sosial yang sesuai dengan koridor syariah.

FGD itu mengundang narasumber KH Slamet Efendi Yusuf dari MUI, Dr. Bambang Kusumanto Dewan Penasehat DPP LDII sekaligus anggota DPRD DKI Jakarta, dan Dr. Ahmad Nizar Shihab dari MPR. Sementara partisipan yang hadir di antaranya Masyarakat Ekonomis Syariah (MES), Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Bank Mega Syariah, dan lain-lain.

“BPJS Syariah merupakan hal yang baru, lahir dari amanat UUD 1945 pasal 24 ayat 32, negara berkewajiban memberikan jaminan sosial. Saya mengapresiasi LDII yang berani menginisiasi lahirnya BPJS Syariah. Ketika negara mengeluarkan ide-ide tertentu masih melihat kembali ajaran Islam. Dengan makin besarnya ekonomi syariah. Banyak sekali keinginan untuk mewujudkan syariah. Sejak era 80-an ekonomi kita sangat diwarnai ekonomi konvensional. Sehingga timbul dikotomi antara ekonomi dan syariah,” ujar KH Slamet Efendi.

Menurut Ketua DPP LDII Chriswanto Santoso, mewujudkan BPJS Syariah sangat mudah bila pemerintah memiliki kemauan. Selain itu BPJS Syariah tak bertentangan dengan dengan landasan filosofis sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan, pada UUD 1945 negara Indonesia mendasarkan diri pada budi pekerti, moral, dan nilai agama. Hak asasi boleh dibatasi, namun yang membatasi adalah undang-undang. Umat Islam Indonesia tanpa memberangus hak-hak beragama umat lain juga memiliki hak untuk menjalankan ibadah seperti perniagaan yang sesuai syariah.

Dalam FGD Menggagas BPJS Syariah, terdapat beberapa permasalahan dalam mewujudkannya. Permasalahan yang utama adalah terkait dengan kemauan politik dari penguasa, baik itu dari eksekutif maupun legislatif. “Jika pemerintah membuka dua jalur antara konvensional atau syariah, maka kita bertugas menyosialisasikannya pada umat Islam. Maka perlu ada yang mewadahinya hingga umat Islam mau memiliki kemauan untuk beralih ke BPJS Syariah,” ujar Tengku Zulkarnain

Peserta yang hadir berharap wacana menggagas BPJS Syariah terus berkesinambungan. Forum ini harus terus digulirkan dan menjadi agenda bagi ormas-orams Islam. Misalkan MES harus menjadikan agenda utama mengenai BPJS Syariah dan juga dalam Kongres Umat Islam di Yogyakarta pada Januari 2015 mendatang. Umat Islam Indonesia perlu membuat tim yang merumuskan sistem syariah, akadnya, dan perlu dipersiapkan konsep undang-undang BPJS Syariah.

Presiden JOKO WIDODO Mengapresiasikan Langkah LDII

Presiden JOKO WIDODO Mengapresiasikan Langkah LDII

Menyambut pelaksanaan MEA yang dicanangkan mulai Januari 2015 membuat Negara-negara ASEAN, Pada pilar pertama cetak biru MEA, dinyatakan bahwa: ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, aliran modal yang lebih bebas dan tenaga kerja terampil dalam berbagai sektor termaksud sektor pariwisata. Bila tidak siap, maka aliran bebas barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil terlihat sebagai ancaman daripada peluang. MEA dalam upaya peningkatan kemakmuran ekonomi dilakukan melalui penguatan daya saing untuk memenangkan kompetisi global, melalui tahapan integrasi pasar domestik sebagai pasar tunggal dan integrasi basis produksi sehingga pada akhirnya mendorong peningkatan daya saing dalam menembus pasar global.



Siap tidak siap, Negara-negara ASEAN harus siap dalam menghadapi arus bebas tenaga kerja terampil dari Negara tetangganya. Untuk itulah pentingnya peningkatan SDM agar mampu bersaing dalam mengisi lapangan kerja di berbagai sector. Menyikapi itu, Presiden Jokowi cukup yakin bahwa tenaga kerja Indonesia sebenarnya sudah cukup mampu bersaing dengan tenaga kerja dari Negara lain. Bahkan banyak para ahli dari Indonesia yang bekerja di Negara-negara maju serta Negara berkembang dalam membangun pertumbuhan Negara mereka. “justru sebenarnya mereka (Negara lain) lebih takut kepada kita karena kita memiliki tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang. Hal itu tentu menjadi perhatian khusus dalam peningkatan SDM di Negara mereka.”

Terkait hal itu, Presiden Jokowi mengapresiasi langkah-langkah LDII sebagai salah satu ormas Islam terbesar yang turut berperan aktif dalam pembinaan SDM dan peningkatan dan pemberdayaan UKM guna menghadapi MEA. Apa yang dilakukan LDII merupakan salahsatu kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa Indonesia. Hal ini disampaikan ketika Presiden Jokowi menerima jajaran pengurus DPP LDII di Istana Merdeka, Kamis (08/01) kemarin. Didampingi Menteri Sekretaris Negara Mensesneg Pratikno, dan Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Machasin.

Usai pertemuan, Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam menyampaikan butir-butir pertemuan dengan Presiden Jokowi antara lain LDII sudah melakukan kegiatan peningkatan SDM baik formal maupun informal bekerjasama dengan ormas-ormas Islam lain serta instansi pemerintah terkait MEA 2015. Kemudian LDII mendorong agar pemerintah turut membantu penguatan ekonomi syariah. Karena sejatinya ekonomi syariah, bukan saja atribut Islam, tapi atribut semua umat. Karena konsep ekonomi syariah merupakan yang adil. Terkait radikalisme yang marak belakangan ini, LDII bekerjasama dengan PBNU berencana menyelenggarakan pendidikan deradikalisasi. Karena radikalisme ini tidak cocok di Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila. LDII sangat toleran terhadap kemajemukan yang ada, karena itu kerukunan antar umat beragama penting dijaga dalam kerangka NKRI. “Dalam Hal ini Presiden Jokowi mendukung sekali apa yang sudah dilakukan LDII”, imbuh Syam.

Mendukung apa yang disampaikan Abdullah Syam, Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo menegaskan bahwa dakwah yang dilakukan LDII merupakan dakwah bil haal, dakwah yang bersifat solusi. Kegiatan-kegiatan yang LDII lakukan merupakan gabungan dari penguasaan ilmu dan pengamalan ilmu yang terkait dengan persoalan kemasyarakatan. Misal, peningkatan religiusitas di Indonesia, bagaimana kita meningkatkan kerukunan intra maupun inter umat beragama. Dalam hal pembinaan SDM, LDII concern membina mulai sejak usia dini hingga dewasa. Sehingga bisa terwujud tri sukses generus yang mandiri.

Di akhir pertemuan, LDII berencana menggelar seminar atau semacam lokakarya Ekonomi Syariah dan memohon agar Presiden Jokowi dapat menghadiri acara tersebut.

Dialog Antar Umat Beragama Tangkal Perpecahan Anak Bangsa

 Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah terus membangun dialog, silaturahim kebangsaan dan penguatan kerukunan umat beragama untuk...