Rabu, 26 Maret 2014

Kegiatan Warga LDII JATIM

Kegiatan Warga LDII Sidoarjo Jatim

PC LDII taman  sidoarjo mendapat tamu dalam acara pengajian umum yang di adakan seminggu sekali, Danramil Taman dalam kunjungannya menjelaskan tentang pentingnya wawasan kebangsaan kepada warga ldii. Ketua PC LDII taman Bapak Trisno Yudi Hartoro, juga memaparkan bahwa bangsa Indonesia harus bersatu, dalam kaitan ini adalah meperkuat tali uhkuwah islamiyah, uhkuwah basyariah dan uhkuwah wathaniyah, dan saling toleransi sehingga Indonesia kedepan bisa menjadi Negara maju sehingga tantangan yang mengusik NKRI bisa di atasi. Danramil sangat berharap kepada LDII dan ormas lainnya membantu TNI maupun Polri dalam rangka keamanan dan ketertiban masyarakat, dan bisa menjadi contoh kepada yang lain.

Kegiatan Warga LDII Malang Jatim

masjid Roudlotul Jannah Kecamatan Sukun beberapa waktu lalu mengadakan bakti social Donor darah. para pengurus LDII kecamatan sukun mempelopori kegiatan ini yang di ikuti oleh 80 orang peserta yang terdiri dari remaja, dan orang-orang dewasa. kegiatan ini sudah berjalan selama 2 kali yang di laksanakan di kantor PMI Cabang Malang, biasanya di ikuti oleh 40 an orang. Ketua PMI cabang Malang mengatakan sangat berterima kasih sekali kepada warga ldii dan insya allah kegiatan ini akan di lakukan selama tiga bulan sekali di tempat-tempat pengajian ldii secara bergantian. donor darah selain sebagai kegiatan sosial, kegiatan ini akan membantu kesehatan tubuh kita terutama mencegah terjadinya penyakit stroke dan badan akan semakin bugar. demikian juga seperti kesaksian ketua DPD LDII Kota Malang Drs.H.Heri Susanto yang telah merasakan sendiri ketika badan kurang sehat beliau malah mendonorkan darahnya sehingga badan menjadi ringan.

Kunjungan Ketua PP Muhammadiyah Keponpes walibarokah kediri jatim


Prof.Dr.H.Syafiq A.Mughni,MA beberapa waktu lalu sempat mengunjungi ponpes walibarokah ldii Kediri, dalam ceramah singkatnya beliau mengatakan bahwa : islam itu adalah agama yang satu, namun dalam pemahamannya berbeda-beda, di antara perbedaan itu orang islam wajib mempunyai pegangan yang kuat yaitu Al-Quran dan Al-Hadits, dan kita tidak bisa memaksa seseorang supaya mempunyai kefahaman yang sama seperti kita, karena itu sudah qodrat dari allah swt. Oleh karena itu itu kita harus menggemakan islam itu adalah agama yang rohmatan lilalamin, jangan sampai timbul kebencian antara sesama, timbul permusahan antara sesame umat islam.
Kunjungan MUI Jakarta Pusat Ke Pondok Wali Barokah Kediri
Ketum MUI Jakarta Pusat Drs.KH.Yusuf Aman, MA di dampingi oleh beberapa pengurus ldii jakpus berkunjung ke pondok walibarokah Kediri, dalam kunjungannya beliau mengatakan bahwa ldii mengedepankan lisan al haal afshohu min lisaan al maqool, jadi nilai sentuh ldii terletak pada tindakan bukan hanya sebatas omongan. “ saya memandang aset ldii ini yang seharusnya di tiru oleh organisasi lain dalam segi dakwahnya. Sekarang tinggal bagaimana teman-teman ldii lebih mensosialisasikan metode dakwahnya.

Rabu, 19 Maret 2014

Ironis Antara Pekerjaan dan Tanggung Jawab

Ironis Antara Pekerjaan dan Tanggung Jawab

Sore itu sebuah mobil Afanza berparkir di depan rumah saya, pengemudinya turun, dengan penampilan pakaian ala preman, rambut gondrong diikat kebelakang, kalung bergantung di leher, berjaket jean dan celana jean, di jari tangan terlihat beberapa cincin batu akik. Ia datang menghampiri saya yang kebetulan pintu rumah terbuka dan saya duduk di kursi yang dekat dengan pintu menghadap ke halaman rumah. Rupanya Ia adalah orang tua mahasiswa saya yang datang untuk satu keperluan yaitu menitipkan anak perempuannya yang sekarang duduk di bangku SMA kelas 3, untuk kiranya dibimbing agar dapat masuk Program Studi Kebidanan di Sekolah tempat saya bekerja. Kegiatan sehari-hari si Bapak seram ini adalah seorang Deb Kolektor di dua perusahaan Finance di Kota kami, penampilan yang demikian sesuailah dengan pekerjaannya yang memang juru tagih dari setiap kredit yang bermasalah sekaligus ia juga dipercaya sebagai tim security untuk mengamankan dari rongrongan pihak penganggu. Namun demikian yang menjadi sangat istimewa buat saya adalah tanggung jawab terhadap anaknya yang di titipkan untuk dididik di sekolah kami padahal menurut Beliau mereka telah bercerai dan ke dua anaknya yang sedang dan yang akan bersekolah di tempat saya mengajar notabene adalah anak istrinya alias anak tirinya. Ia menjelaskan walaupun anak tiri saya tetap sayang dan mereka tetaplah tidak terhalang dengan status itu.
Fenomena yang jarang terjadi pada orang dengan penampilan yang seram seperti cerita di atas, itu mungkin pantasnya pada orang biasa yang solih dan pendidikan baik. Lalu saya teringat pada seseorang yang berpenampilan yang sebaliknya, yang menurut saya sangat ironis, yaitu ada seorang oknum orang tua (bapak), terpelajar, berpredikat sarjana ditambah dengan pendidikan profesi pada bidangnya, lulusan dari perguruan tinggi bergengsi. Beliau juga adalah orang yang ditokohkan dikalangan komunitas pengajian ditempatnya, Beliau mempunyai dua anak dari istri ke duanya dan sekarang setatus mereka cerai, dua anak itu ikut bersama Ibunya, dengan alasan pada waktu itu anak-anak masih di bawah umur ke dua anak mereka perlu pengasuhan dari ibu. Saat ini anak-anak sudah besar dan sudah menginjak akil balig, namun tetap masih tinggal bersama Ibunya yang pada saat ini sudah memiliki suami lagi (Bapak tiri dari anak-anak Beliau). Berdasarkan penuturan si Ibu, sejak mereka berpisah pemberian bantuan untuk anak-anaknya tidak berjalan dengan lancar, hanya beberapa kali saja ia meberikan bantuan biaya sekedarnya, yang mengenaskan untuk mendapatkannya sering harus dikejar dan diingatkan. Karena suatu hal salah satu anak beliau terjadi kenakalan, kemudian Bapak tiri (suami mantan istrinya), mengajak berembuk untuk menyelesaikan masalah anak Beliau dan sekaligus memohon bantuan dana untuk kelangsungan pendidikan dan kehidupan anak-anaknya. Yang terjadi Beliau tidak menaggapi dengan cepat dan serius sehingga masalah berlarut-larut. Demikian Ironisnya jika kita bandingkan dengan orang tua yang preman pada kasus di atas. Tentu setiap orang memiliki alas an untuk bertindak, dengan komunikasi yang terjalin baik setidaknya aka nada kejelasan dan dapat dimengerti oleh masing-masing, pihak.
Marilah kita simak bersama dalil-dalil di bawah ini untuk nasehat kita sekalian:
Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam menjaga harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. [HR Bukhari juz 1, hal. 215]
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka ...... . [QS. An-Nisaa' : 34]
Dan bagi ayah berkewajiban memberi nafkah dan memberi pakaian kepada ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma'ruf. [QS. Al-Baqarah : 233]
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Satu dinar kamu infaqkan fii sabiilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu". [HR. Muslim juz 2, hal. 692]
Dosa bagi seorang Bapak yang mengabaikan keluarganya, termasuk anak di dalamnya.
Dari Abdullah bin 'Amr (bin Al-'Ash), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi seseorang berdosa, apabila dia mengabaikan orang yang makan dan minumnya menjadi tanggungannya". [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 132]
Dari Ummu Salamah, ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah saya mendapat pahala kalau saya membelanjai putra-putranya Abu Salamah, sebab saya tidak dapat membiarkan mereka demikian dan demikian (mencari makan kesana-kemari), karena mereka itu juga sebagai anak-anak saya ?". Jawab Rasulullah SAW, “Ya, kamu mendapat pahala dari apa yang kamu belanjakan kepada mereka". [HR. Muslim juz 2, hal. 695]

Mari kita perhatikan bagaimana seorang Bapak harus berbuat adil pada anak-anaknya.
Dari Nu'man bin Basyir, ia berkata, “Ayahku memberikan sebagian hartanya kepadaku”. Lalu ibuku, yaitu ‘Amrah binti Rawahah berkata, ”Aku tidak rela sehingga kamu minta disaksikan kepada Rasulullah SAW”. Maka ayahku datang kepada Nabi SAW meminta kepada beliau untuk menyaksikan pemberiannya kepadaku. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu juga memberikan seperti ini kepada semua anakmu ?". Ia menjawab, “Tidak". Nabi SAW bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah, dan berbuatlah adil terhadap anak-anakmu". Lalu ayahku pulang dan menarik kembali pemberian itu. [HR. Muslim juz 3, hal. 1242].
Dan dalam satu riwayat, Nabi SAW menjawab, “Carilah saksi untuk hal ini kepada selain aku". Kemudian beliau bersabda, “Apakah kamu tidak senang apabila anak-anakmu sama-sama berbhakti kepadamu ?". Dia menjawab, “Ya". Beliau bersabda, “Jika demikian, maka janganlah kamu lakukan". [HR. Muslim juz 3, hal. 1244]

Marilah kita urus anak-anak kita meskipun mereka mungkin sudah tidak bersama kita, karena kewajiban tetaplah melekat. Alloh mengerti keberadaan kita, cukup lakukan dengan bil-ma-ruf.
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezqinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS. Ath-Thalaaq : 7]

Semoga jadi pelajaran barokah bagi mereka yang terpaksa harus berpisah dengan anak-anaknya, jangan rasa tidak cocok dengan pasangannya menjadi hambatan untuk menafkahi anak-anaknya, Jangan sampai anak jadi korban dan pada gilirannya membawa kerugian bagi dirinya dunia achirot.

Aplikasi Budi luhur Pada Lingkungan Warga Masyarakat

Aplikasi Budi luhur Pada Lingkungan Warga Masyarakat

Aplikasi Budi Luhur - Manusia yang hidup dalam lingkungan orang-orang majemuk mesti bisa membawa diri serta dapat menambah kepedulian sosial, hingga seluruhnya aktivitas bermasyarakat, berbangsa serta bernegara di semua segi bisa jalan dengan kondusif, aman serta lancar. Karena kondisinya benar-benar sangat mungkin untuk mensejahterakan orang-orang.

Kehidupan sosial didalam orang-orang pastinya tambah lebih komplek daripada kehidupan sosial dalam keluarga, terlebih keadaan ekonomi negara yang belum seutuhnya sembuh sudah menyebabkan efek, di mana emosi seorang jadi lebih gampang tersulut cuma lantaran beberapa masalah yang sebenarnya tidaklah penting ( persoalan remeh). Munculnya persoalan Ambon serta Poso yang menelan beberapa ribu nyawa sesungguhnya juga bermula cuma dari perkelahian sebagian orang pemuda yang mabuk. Walau demikian disebabkan ada kesenjangan sosial untuk efek persoalan ekonomi, persoalan kecil itu jadi gampang disulut untuk jadi persoalan yang besar. Bila kita dengan bijak lihat efek yang ditimbulkannya, pastilah kita bakal setuju untuk tambah baik bertindak preventif daripada terlanjur berlangsung persoalan yang semakin besar. Aksi preventif itu yaitu dengan mengamalkan praktik budi mulia seperti ajaran Allah serta Rasululloh SAW.

Untuk wujudkan hal itu seluruhnya dituntut untuk dapat mengatur udara nafsu serta emosinya untuk mengalah serta semakin dapat mementingkan kebutuhan yang semakin besar dibandingkankan dengan kebutuhan pribadi sebentar. Lantaran efek dari tingkah laku budi asor dapat benar-benar besar sekali yg tidak cuma menimpa pada diri pelaku itu sendiri, walau demikian juga membawa efek pada pencitraan buruk pada keluarga, grup atau institusi si pelaku. Yang pada akhirnya dapat jadikan keadaan yg tidak stabil (kacau) dalam orang-orang. Namun sebaliknya bila masing-masing dapat berbudi pekerti luhur hingga dinilai baik oleh orang-orang luas hingga berlangsung pencitraan yang baik, maka itu bukan sekedar baik untuk dianya namun juga baik untuk keluarga, grup atau institusinya. Pada akhirnya kehidupan bermasyarakat akan jadi tambah lancar yang bermakna itu andil dalam membuat situasi damai, tentram yang berpahala besar.

Wujud implementasi budi mulia dengan cara simpel dalam orang-orang yaitu dengan pro aktif dalam ikuti kegiatan-kegiatan di orang-orang, baik dalam wujud pertolongan materiil ataupun tenaga. Janganlah meremehkan juga acuh pada aktivitas di lingkungan seputar hingga menyebabkan timbulnya penilaian negatif dari orang-orang yang selanjutnya menyebabkan anti-pati.

Aplikasi Budi luhur Pada Tataran Berbangsa serta Bernegara

Beberapa besar ulama di Indonesia sudah keduanya sama setuju bahwasanya wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini yaitu telah final serta tak dapat ditawar lagi. Sikap ini juga sudah diperkuat dalam ijtimak ulama se Indonesia dalam pertemuan beberapa ulama di bawah koordinasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Gontor, Ponorogo pada th. 2006.

Dengan basic ini maka semua warga negara Indonesia terutama umat islam dituntut untuk turut melindungi terus tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia serta terus melindungi persatuan serta kesatuan bangsa serta senantiasa jadikan agama serta perundang-undangan yang berlaku untuk penuntun dalam kehidupan berbangsa serta bernegara.

Lantaran disadari seperti info pada bab pada mulanya bahwasanya Indonesia ini benar-benar bermacam/heterogen, maka persatuan serta kesatuan cuma bisa di bangun atas basic sama-sama menghormati, berfikiran positif (husnudzon), sama-sama ikhlas berkorban untuk menyamakan persepsi/pola pikir (Taswiyatul Manhaj atau Manhaj al-fikr), hingga terwujudnya kesamaan/kecocokan langkah (Tansiqul Harokah). Disinilah budi mulia jadi kunci untuk dapat menjadikan satu persepsi serta menyerasikan langkah. Semoga tulisan ringkas ini berguna.

PENERAPAN BUDI LUHUR UNTUK WARGA LDII

PENERAPAN BUDI LUHUR WARGA LDII

Penerapan Budi Luhur Warga LDII - Telah jadi perjanjian bangsa ini bahwasanya negara ini di bangun atas basic perbedaan/heterogenitas. Hal semacam ini tercermin dari semboyan yang nampak di simbol negara burung Garuda yakni ”Bhineka Tunggal Ika”. Itu adalah satu ungkapan bahwasanya ada perbedaan yaitu dibenarkan serta mesti difahami itu adalah kodrat dari Alloh Subhanahu Wata`ala

Oleh karenanya yaitu satu sikap yang benar-benar tak bijaksana jika kita mengulas atau mempersoalkan perbedaan. Semestinya yaitu bagaimana kita dapat berbarengan sama dalam perbedaan itu untuk meraih maksud berbarengan. Oleh karenanya benar-benar dibutuhkan sikap sama-sama menghormati/menghormati pada kebutuhan sesama yang aplikasinya yaitu dengan mengamalkan sikap/tingkah laku yang berbudi luhur dan mulia yakni sama-sama memegang ketentuan yang berlaku serta sama-sama menghormati.

Mencermati uraian di atas, di mana perbedaan yaitu dibenarkan untuk hak serta kodrat individu, maka aplikasi / penerapan budi luhur sebaiknya dimulai dari dalam diri sendiri yang lalu melebar ke keluarga dan sebagainya ke lingkungan orang-orang yang lebih luas.

Aplikasi Budi mulia Pada Diri Sendiri

Individu seorang yaitu elemen paling kecil dari suatu lingkungan sosial, di mana semua sistem hubungan sosial itu bermula dari kebutuhan individu dengan individu yang lain. Sistem hubungan inilah yang kerapkali menyebabkan persoalan sosial saat satu diantara atau ke-2 individu itu tak berbudi pekerti mulia (tak berperilaku baik), baik itu melalui perkataan, perilaku, atau janji yg tidak ditepati hingga menyebabkan kekecewaan satu diantara pihak.

Dengan basic inilah maka praktik budi mulia ini sebaiknya dimulai dengan memahamkan diri sendiri bahwasanya ;

Aplikasi budi mulia pada diri sendiri ini tidaklah suatu hal yang demikian saja dengan gampang beralih, namun mesti dilatih terus-menerus pada diri sendiri bahwasanya ”saya mesti berbudiluhur”. Pada hakikatnya budi mulia juga adalah sikap ingindalian emosi kita untuk lakukan suatu hal yang belum pasti sesuai sama dengan hati kecil kita. Hal semacam ini berlangsung lantaran tiap-tiap manusia mempunyai egoisme (أناني) yang kerap nampak untuk individu yang terasa memiliki keunggulan dari orang lain, tidak ingin ngalah, perasaan mesti menang dan lain-lain. Hingga dengan sikap emosional itu kerap nampak dalam hati kecil satu ungkapan :.. mengapa saya yang perlu mengawali?.., mengapa saya mesti mengalah? …, emangnya gua takut?.., serta lain sebagainya yang bakal jadi penghalang timbulnya tingkah laku budi mulia. Walau sebenarnya mempraktekkan budi mulia tidaklah bermakna untuk ungkapan bahwasanya kita lebih rendah dari orang lain, atau kita kalah dengan orang lain, walau demikian budi mulia dalam hal semacam ini mesti dipandang untuk sikap sosial yang perlu dikerjakan oleh individu yang lakukan hubungan sosial dengan individu yang lain. Juga Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam juga, untuk pimpinan umat islam se dunia, juga mesti melunakkan hatinya supaya umat dapat terima kehadiran Nabi, seperti diterangkan dalam Al-Qur`an :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
* سورة أل عمران 159

Maka karena rahmat dari Allah maka lunak hatimu (Muhammad) pada mereka, Seandainya keras hatimu pasti mereka bakal lari dari sekitarmu. Maafkanlah mereka serta mintakan ampun mereka, serta bermusyawarohlah dengan mereka didalam perkara. Maka saat berniat engkau, maka menyerahlah pada Allah, Sebenarnya Allah suka dengan orang yang menyerah.

Apakah itu bermakna Nabi sudah kalah dengan umatnya? Pastinya tak, namun itu yaitu ingindalian udara nafsu/emosional agar bisa berperilaku budi mulia supaya bisa di terima oleh umatnya lantaran disadari perihal ada kebutuhan individu yang lain (umatnya) yang juga mesti dihargai.

Aplikasi Budi mulia Pada Lingkungan Keluarga

Setelah itu praktik budi mulia mesti di kembangkan dalam lingkungan yang sedikit lebih luas, yakni lingkungan keluarga. Di antara anggota keluarga butuh juga di kembangkan sikap budi mulia yakni untuk sama-sama menghormati kebutuhan masing-masing anggota keluarga, mengaplikasikan akhlaqul karimah.

Aplikasi budi mulia pada level keluarga ini yaitu benar-benar utama, lantaran pada level ini ada ikatan emosional yang benar-benar kuat hingga benar-benar sangat mungkin dikerjakan keterbukaan untuk sama-sama belajar, sama-sama mendidik, sama-sama menasehati serta sama-sama memengaruhi. Inilah tataran pendidikan yang paling basic yang benar-benar memengaruhi tingkah laku seorang.

Hubungan sosial yang berlangsung pada level ini yaitu pada bapak, ibu, anak, pembantu rumah tangga atau barangkali ada juga kakek, nenek, cucu serta lain yang lain. Sesuai sama kemampuan serta mutu yang dipunyai, di antara masing-masing anggota keluarga pasti ada perbedaan-perbedaan. Sama-sama mengerti serta menghormati perbedaan inilah sebenarnya kunci budi mulia dalam keluarga.

Dialog Antar Umat Beragama Tangkal Perpecahan Anak Bangsa

 Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah terus membangun dialog, silaturahim kebangsaan dan penguatan kerukunan umat beragama untuk...